Gurindam bangsa – kesyukuran di dalam kesempitan.

Catatan Rawak - Penulis: rohaizad - Kategori: Bahasa - Tarikh diterbitkan: October 9, 2009 online

Bendera negaraku di bakar,
Tentangan untukku di arak,
Nekad hati dibulat,
Untuk apa?

Kesumat di tagih,
Dendam di agih,
Perancangan di atur?
Untuk siapa?

Bencinya yang amat,
Suaranya di langit,
Hatinya seakan api,
Mengapa?

ganyang malaysia

Jantungnya berdegup kencang,
Jiwanya menyimpan yang tersirat,
Perjuangannya ibarat rahsia,
Itu semua apa?

Lihatlah jiwa yang amarah,
Kembalikan sejarah nusa bangsa,
Di manakah kita?
Siapakah kita?

Adanya kami maka kamu ke sini,
Di niatkan hati untuk mencari rezeki,
Tingginya bangunan kami kerana kamu,
Itu sesuatu yang perlu kami akui.

Tetapi mengapa kami di caci?
Bukankah datangnya kamu mencari rezeki,
Jadi mengapa dikeji negara ini?
Yang telah memberikan kamu sedikit rezeki?

Usah bicara soal kekuatan,
Usah di benam cerita kebenaran,
Masalah yang jauh ada kelihatan,
Penyelesaian yang hampir ini tidak pula dipedulikan.

Bandarnya kami di Malaysia ini,
Bandarnya kamu di Indonesia sana,
Keluarga kami di Malaysia ini,
Keluarga kamu di Indonesia sana.

Isterinya ada di Malaysia,
Suaminya pula di Indonesia sana,
Harus di apakan mereka semua?
Si anak nanti yang menjadi mangsa.

Susahnya kamu, susahlah kami,
Bencananya kamu, kami masih menanti,
Jiwa yang punah kami rasai,
Di situlah kami seakan mati.

Tsunami menyerang Aceh di ratapi,
Kami di sini sungguh memahami,
Bantuan kami seikhlas hati,
Semuanya tersurat, tidak di jual beli.

nik aziz

Rezekinya kita di tangan Allah,
Mengapa pertimbangan dibuang sudah?
Bukankah Islam pemberi jiwa?
Tenangkan hati… teruskan musyawwarah.

Kalau kami yang tersalah,
Kami sedia menghalusinya,
Sudah adatnya hidup di dunia,
Tiada manusia yang sempurna.

Gembiranya kamu, bahagia kami,
Rumpun di jaga, budaya di semi,
Jika ada yang tidak di ingini,
Usah dibuat keputusan sendiri.

Tiada yang hebat tentang kami,
Tiada yang buruk tentang kamu,
Tiada siapa yang akan pergi,
Tiada mangsa yang akan bertemu.

Jangan hanya nila setitik,
Rosak semua susu sebelanga,
Jati diri mestilah di didik,
Agar kita hidup sempurna.

Majunya kami kerna kamu juga,
Hiduplah di sini atas peluang yang ada,
Kita semua serumpun keluarga,
Usah dibawa nafsu yang ada.

Jangan di besarkan onar yang kecil,
Kelak menjadi musibah bangsa,
Kami hanya mampu bersabar,
Jangan dibangun SEMANGAT PENDEKAR!

Nukilan dari rohaizad dot com

tugu_negara

p/s: Baca juga luahan pejuang bangsa dari Salam Nusantara.

p/s/s: Untuk pembaca dan pengunjung setia blog ini yang berada di Indonesia sana, ayuh kita bersama-sama membantu mengembalikan ketenangan yang telah kita miliki selama ini. Usah di biarkan kelompok minoriti yang mempunyai agenda tertentu mengganggu gugat ketenteraman kita bersama!


Ingin beriklan? Maklumat lanjut di sini

Sudah 73 komen diberi. Giliran anda pula!

  1. miziology said:

    fuhh mmg menangkap jiwa..xsangka bro ijad pandai bergurindam :)

    p/s: Bulan Oktober Bulan Bahasa Kebangsaan Malaysia

    rohaizad Reply:

    Sket-sket tu bolehlah…. janji mesej boleh disampaikan.
    :D

    Zulazis Reply:

    ayat2 yg sungguh berkesan & tangkap otak….

  2. Wan Zaki said:

    Good writing! memang begitu bermakna. Saya turut sama bersetuju dengan puisi saudara..

    WaNZ

    rohaizad Reply:

    Sama-samalah kita ya :)

  3. Sebenarnya media Indonesia yang memporak peranda isu di sana. Biasala nak untung cepat, kena buat cerita yang panas-panas, sampaikan orang Indon yang kurang cerdik ini, mengamuk tak tu pasal. Padahal tak tahu hujung pangkal cerita.

    rohaizad Reply:

    Betul.. betul.. betul…

  4. hafiz said:

    sungguh cantik dan bermakne gurindam bro ijad.saye mmg stuju n mmg sampai mesej yg disampaikan..ade statistik undian ntv7..75% tidak setuju malaysia meneruskan misi menyelamat di Padang gara2 cerita2 panas dr indonesia nie..tp kite tetap memahami mereke..kite kan serumpun malahan seagama bersaudara..kan?

    rohaizad Reply:

    Yup, tapi dalam hal ini.. semuanya seolah-olah telah dilupakan.

  5. Kujie said:

    kelu dan pilu

    rohaizad Reply:

    Mendalam maksud ayat Kak Jie tuh.

  6. lizz said:

    nice sangat kata-kata dalam gurindam ni! mesej yang sangat mudah difaham even dalam kiasan cume :)

    rohaizad Reply:

    Bolehlah’kan… bukan handal sangat pun dalam bergurindam ni… janji mesejnya sampai. :D

  7. Harap2 org indon membaca dan memahami nukilan ini….

    kenapa mencari peperangan, sedangkan tuhan menyuruh kita mencari kedamaian sesama manusia…

    1 bangsa, 1 agama, 1 bahasa….tetapi masih lg ingin berperang sesama sendiri…

    Adakah dunia sudah di penghujung nyawa…

    rohaizad Reply:

    Belum lagi… tapi pertimbangan diri yang hilangnya entah ke mana.

  8. dr.aku.la said:

    penuh isi gurindam ni.
    setiap bait setiap patah.
    “api” yang kecil usah dibiar membakar.

    rohaizad Reply:

    Fahami yang tersirat.. mesti nampak apa yang tersurat.

  9. Selain berblogging, bro ijad pun boleh jadi penulis Gurindam lepas ni.Hehehe.. Pesanan untuk bangsa serumpun kita…

    rohaizad Reply:

    Sket-sket .. apa salahnya`kan :)

  10. faisalhanim said:

    aku pun kurang paham dgn org2 indonesia yg sukarela nk menyerang kita. Bukan ker kita ni asalnya genetik yg sama? Tentu ler budaya pun sama. Apa diorg jer ke umat melayu kat dunia?

    ambillah tarian pendet tue..kami tak perlukan…tp tlg jgn ambik bergedil…sedap beb! :)

    rohaizad Reply:

    Ini semua salah faham… boleh diselesaikan di meja rundingan. Tapi itulah, jalan pendek ada… nak juga ikut jalan panjang.

  11. Akhirnya terdetik juga seorang wartawan Indonesia untuk menyuarakan yang benar dan menyanjung etika kewartawanan yang sejati.

    Artikel khusus menjawab isu ‘ngeklaim’ kebudayaan Indonesia oleh Malaysia.

    http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/09/03440240/salah.kaprah.paten.budaya

    Salah Kaprah Paten Budaya
    Jumat, 9 Oktober 2009 | 03:44 WIB
    Oleh Arif Havas Oegroseno
    Tajuk Rencana Kompas (3/10) berjudul ”Batik Milik Dunia” berisi: ”Untuk menghindarkan klaim negara lain terhadap produk budaya nasional, Indonesia perlu segera mematenkannya di lembaga internasional”. Pernyataan ini sangat mengejutkan, paling tidak karena tiga perkara.
    Pertama, paten adalah perlindungan hukum untuk teknologi atau proses teknologi, bukan untuk seni budaya seperti batik. Kedua, tak ada lembaga internasional yang menerima pendaftaran cipta atau paten dan menjadi polisi dunia di bidang hak kekayaan intelektual (HKI). Ketiga, media terus saja mengulangi kesalahan pemahaman HKI yang mendasar bahwa seolah-olah seni budaya dapat dipatenkan.

    Dalam urusan HKI, ada sejumlah hak yang dilindungi, seperti hak cipta dan paten dengan peruntukan yang berbeda. Hak cipta adalah perlindungan untuk ciptaan di bidang seni budaya dan ilmu pengetahuan, seperti lagu, tari, batik, dan program komputer. Sementara hak paten adalah perlindungan untuk penemuan (invention) di bidang teknologi atau proses teknologi. Ini prinsip hukum di tingkat nasional dan internasional. Paten tidak ada urusannya dengan seni budaya.

    Jadi, pernyataan ”perlu mematenkan seni budaya” adalah distorsi stadium tinggi. Penularan distorsi pemahaman oleh media ini menjalar lebih cepat daripada flu burung. Tidak kurang dari Sultan Hamengku Buwono X menyatakan bahwa produk budaya dan seni warisan leluhur idealnya dipatenkan secara internasional (Antara, 25/8/2009) atau Gubernur Banten yang akan mematenkan debus (Antara, 28/8/2009).
    Distorsi ini sangat berbahaya karena memberikan pengetahuan yang salah kepada publik secara terus-menerus, akibatnya kita terlihat sebagai bangsa aneh karena di satu sisi marah-marah karena merasa seni budayanya diklaim orang lain, tetapi di sisi lain tak paham hal-hal mendasar tentang hak cipta dan paten.

    Salah kaprah lain adalah keinginan gegap gempita untuk mendaftarkan warisan seni budaya untuk memperoleh hak cipta. Para gubernur, wali kota, dan bupati berlomba-lomba membuat pernyataan di media bahwa terdapat sekian ribu seni budaya yang siap didaftarkan untuk mendapat hak cipta. Tampaknya tak disadari bahwa dalam sistem perlindungan hak cipta, pendaftaran tidaklah wajib. Apabila didaftarkan, akan muncul konsekuensi berupa habisnya masa berlaku hak cipta, yakni 50 tahun setelah pencipta meninggal dunia. Jadi, seruan agar tari Pendet didaftarkan adalah berbahaya karena 50 tahun setelah pencipta tari Pendet meninggal dunia, hak ciptanya hilang dan tari Pendet dapat diklaim siapa saja.

    Kita harus hati-hati menggunakan kata klaim apabila terkait urusan sebaran budaya. Adanya budaya Indonesia di negara lain tidak berarti negara itu secara langsung melakukan klaim atas budaya Indonesia. Karena apabila ini kerangka berpikir kita, kita harus siap-siap dengan tuduhan bangsa lain bahwa Indonesia juga telah mengklaim budaya orang lain; misalnya bahasa Indonesia yang 30 persen bahasa Arab, 30 persen bahasa Eropa (Inggris, Belanda, dan Portugis) serta 40 persen bahasa Melayu. Bagaimana dengan Ramayana yang oleh UNESCO diproklamasikan sebagai seni budaya tak benda India? Apakah Indonesia telah mengklaim budaya India sebagai budaya kita karena di Jawa Tengah sendratari Ramayana telah menjadi bagian budaya?

    Dalam narasi proklamasi UNESCO atas wayang sebagai seni tak benda Indonesia, disebutkan ”Wayang stories borrow characters from Indian epics and heroes from Persian tales”. UNESCO menyatakan kita meminjam budaya orang lain dalam wayang kita. Apakah meminjam sama dengan mengklaim? Rabindranath Tagore dalam Letters from Java justru terharu dan bangga melihat budaya India dilestarikan di Jawa, bukannya menganggap ini sebagai klaim Indonesia, lalu marah dan meneriakkan perang.

    Solusinya
    Pertama, media sebagai kekuatan sosial politik keempat harus berani belajar untuk menyajikan substansi yang benar tanpa takut kehilangan rating. Kedua, pemerintah daerah perlu memberdayakan aparat mereka agar paham masalah-masalah HKI. Upaya mudah dan murah, kalau mau.
    Ketiga, database tentang seni budaya Indonesia dikumpulkan di satu instansi tertentu, lalu disusun dengan klasifikasi kategorisasi sesuai standar Organisasi Kekayaan Intelektual Dunia (WIPO). Keempat, database ini dilindungi instrumen hukum nasional, lalu dijadikan rujukan dalam perjanjian bilateral guna membatalkan pemberian hak cipta yang meniru seni budaya Indonesia.
    Kelima, Indonesia bersama negara-negara berkembang terus melanjutkan keberhasilan perundingan di Sidang Majelis Umum WIPO pada 1 Oktober 2009 yang memutuskan bahwa WIPO akan menegosiasikan suatu instrumen hukum internasional yang akan mengatur perlindungan masalah pengetahuan tradisional, ekspresi budaya tradisional, dan sumber genetika.
    Mari bekerja keras dengan nasionalisme yang cerdas.

    Arif Havas Oegroseno Alumnus Harvard Law School

    rohaizad Reply:

    Thanks untuk info ini… sungguh BENAR kenyataannya.

  12. Fatin Pauzi said:

    Adeh.. Indonesian… Indonesian…
    Ade orang bawak mulut cite tak betul ni.
    Tengok cite Indon pun dah leh agak macam mana
    sikap batu api die orang. Well, yang tak buat tu,
    ok la.

    rohaizad Reply:

    Sokong..sokong..sokong!

  13. MoYus said:

    boleh tahan gak bro rohaizad ni berpuitis eh..bagus-bagus :-) .

    pasal indonesian ni? hmm..tak paham la..apa la salah Malaysia sampai jadi camtu, padahal bukan salah Malaysia, salah orang ke3 yang SILAP edit video..ish3..

    rohaizad Reply:

    Sebenarnyaa, tidak boleh dilayan sangat perkara ini. Tapi kalau dah sampai tahap bakar bendera… itu dah mencabar kewarasan kita.

  14. boleh tahan ko punye puisi jad….syabas

    rohaizad Reply:

    Nak kutuk aku ler tuh… ahahahah :D

    mazuki selangor2u Reply:

    mana ada nak kutuk….xde niat pon..hahaha

    rohaizad Reply:

    Ahahahah!

  15. aizat kamal said:

    kes2 cmni jadi sebb kbnykan pekerja indonesia
    kat malaysia ni ditindas, dicaci, dimaki…
    memang diorang bengang la…
    sikap rakyat malaysia kita sendiri gak yg jadi
    penyebab ketegangan ni…

    so sbgai rakyat malaysia, hormatilah sesama manusia…
    kita semua sama saja, hamba Allah…

    rohaizad Reply:

    Betul tu Aizat. Aku cukup terkesan bila itu berlaku sebab keluarga aku sendiri mempunyai anak angkat Indonesia. Selama di dia sini, dari bujang sampai kahwin dan ada anak pertama…

    Lahir je anak kedua, mereka pulang ke Surabaya. Sedihnya teramat sangat sebab terpaksa berpisah. Bayangkan sampai loghat Surabaya pun dah hilang…

    Sampai sekarang kalau telefon jer, mesti nangis sebab rindu dengan mak angkatnya di sini. Lagi sedih bila dia sendiri tahu ada kumpulan Ganyang Malaysia….

    hafiz Reply:

    btul tu bro..hanya yg TIDAK FAHAM kite ni serumpun sebangsa seagama yg sanggup buat perkara yg mlggar batasan..musyawwarah itu lebih baik..

    rohaizad Reply:

    Itu semua kerja golongan extremist. Yang rasional selalunya akan menyelesaikannya di meja rundingan.

  16. safwanhussin said:

    Cis, boleh bukak kaunter pendaftaran lagi tu. Daripada bersusah payah datang sini, baiklah gi serang Israel laknatullah tu.

    rohaizad Reply:

    Itulah pasal… persoalannya, untuk siapa?

  17. Azhar said:

    Baiklah kita kita ni kat Malaysia buat sembahyang hajat beramai ramai supaya negara kita selamat dari selalu di fitnah..kalau saudara indonesia kita kat malaysia yang selalu kena dera tu oleh siapa.kita semua tahu kan….

    rohaizad Reply:

    Harap semuanya kembali seperti biasa…

  18. siti said:

    Salam, fuyo (ni ciplak iklan digi, jgn saman ambe,ambe org sosah) huhu, conglate u bro ijad, xsgkalh upanyer ada darah seni ngalir dlm jiwamu, huhu, aku suke bener ngn gurindam mu itu bro ijad.
    Pamit copy n paste ya? Eh terIndon plk bahasaku, huhu,
    Nk bg pndgnlh bro ijad, actly klu tgk kt tv2 pn tgklh cmana angkuhnya org2 kaya ni y dgmbrkn o sinatron Indonesia, ni mgmbrkn jgk mmg sifat2 kebanyakan mereka begitu, alah, senang ckp xboleh tgk org lain senang, ada je PHD(perasaan hasad dengki) dalam diri diorang lg2 tgk Malaysia y lbh kecik dr diorg tp lbh maju kehadapn dr diorg.
    Lg satu nk jgk bg pandangan ni, mgkn musibah y dtg btimpa2 drp Allah s.w.t. ni sebenarnya u menyadarkn dan memberi peringatan kpd mereka2 ni jgn bsikap tlalu angkuh, gah, takbur n sombong dgn apa y kononnya mereka miliki. Dalam keadaan negara y huru hara pn sempat jgk nk mganyang Malaysia, cuba banyangkan kalaulh negara mereka ni aman damai dh lama agaknya negera kte ni dganyang lumat2.
    Lagi satu, mereka y bminda kelas bahawan je ni actly sibuk mengetuk tin y kosong. Sibuk mcanang sesuatu y mereka sendiri tidak berpengetahuan tentang apa yang mereka canangkan. Terlalu beremosional n terlalu mdabik dada.
    Bangsa Malaysia n Indonesia adalah bangsa serumpun, mana2 yang terceduk, terambil, tercopy adalah sesuatu y tidak mustahil akan blaku kerana susur galur kita yang sama. B’diskusilh secara berhemah, bilmiah dan mhormati sesama bangsa serumpun itu adalah lebih baik.
    Sekian, mana2 pandangan y tgelincir boleh didiskusikan ye bro ijad. TQ

    rohaizad Reply:

    Terima kasih di atas info ini. Ia pasti memberi makna pada kedua-dua negara.

  19. siti said:

    Ups baru perasan, kt ats skli tu lawolh dh ada matahari terbenam, ya, i like it, aik, background dh tukar lh plk bro yer, mna batik2 tu, ooooo dh kotor ye, bro g basuh ye?

    MyDailyBlog.Info Reply:

    nampaknye cik siti…seorg yang memerhati tindak tanduk blog nie…termasuk aku juga..huhuhu

    rohaizad Reply:

    Ermm… nampak aje dia… ahahahah :D

  20. Wizurai said:

    kalau encik rohaizad baca gurindam ni b4 kelas seminar smart blogging mesti masyukkkk……..
    hahoha…

    rohaizad Reply:

    Boleh jugak nanti.. macam best ker kan?

  21. alone said:

    Belajarlah untuk berdamai. Belajarlah untuk berkasih sayang.

    Medai janganlah nak cari publisiti saja.

    Duit punya pasal. Manusia bersengketa.

    rohaizad Reply:

    Setuju!

  22. syukran said:

    Ramai tak semestinya berkualiti…itulah indonesia. Kelompok yang lebih matang minda dlm indonesia x berani bersuara sbb takut kena ganyang juga dgn kelompok minda kelas bawahan-jaguh kampung.

    rohaizad Reply:

    Cuma bukan semuanya berniat sebegitu, hanya segelintir sahaja. Yang lain, rasinalnya masih lagi ada :)

  23. wanmus said:

    susah diorang ni..tak sedar diri..diorang duk kutuk kita, kita pulak duk sibuk tolong kutip derma untuk orang mereka yang ditimpa bencana.. moga Allah berkati kita yang membantu dan selamatkan kita semua..

    rohaizad Reply:

    Takperlah… biar orang yang buat kita… kita still lagi membantu mereka. Tapi itulah, jangan sampai maruah kita dipermainkan.. itu akan mencongak kepada peradaban.

  24. safar said:

    Kehebatan saudara rohaizad.pandai hang ni
    sampai lidah kelu tidak terkata.

    sikit punya pasal.tak kan nak gaduh besar.
    berdamai kita kembali.

    rohaizad Reply:

    Harapannya memang macam tu.. tapi kita lihat sahaja sampai bilakah mereka hendak mendongak langit.

  25. cik kerani said:

    HARAM hukum nya melawat tugu negara – Harun Din

    rohaizad Reply:

    Cik Kerani… cik kerani… mengapa ke laut komen yang diberi?
    Bukannya kisah halal dan haram tugu negara yang dibincangkan di sini.

    Nampak sangat mesej yang hendak di sampaikan gagal dan tidak dapat di fikir dengan mendalam. Kasihan dengan CIk Kerani kita.

    p/s: Gambar itu tidak ada kena mengena dengan gurindam ini. Gurindam ini juga di cipta bukanlah bertujuan untuk mengajak sesiapa supaya melawat tugu negara. Ia hanya sekadar di diletakkan di situ atas dasar simbolik… harap Cik Kerani kita lebih matang dalam membaca gurindam ini. Dewasalah…!

    cik kerani Reply:

    just want to share something..

    rohaizad Reply:

    Iya.. memanglah.. tapi tak kena langsung pada topik yang dibincangkan… orang kalau nak share something, biarlah kena pada tempatnya.

    siti Reply:

    Alamak bro ijad, cam emosi jer,

    rohaizad Reply:

    Bukan emo, tapi nasihat.

    cik kerani Reply:

    maaf lah alau saye dah buat awak marah.. kalau tak nak terima, takde paksaan..;) moga kamu dimurahkan rezeki ya…

    rohaizad Reply:

    Bukan marah, cuma nasihat. Buat pengetahuan kamu, saya masih lagi tidak terbitkan komen orang lain terhadap apa yang kamu komenkan (lari tajuk). Mengapa? Kerana saya ingin menjaga hati semua pembaca termasuklah kamu. So the best thing is, berfikirlah dengan rasional apa yang saya kongsikan… kan? kan? kan?

    cik kerani Reply:

    saye sengaja out off the topic sebab i thought you’ve well said about it already lol.bagi saya ini cuma agenda Amerika dan Yahudi yang mahu melihat Malaysia dan Indonesia ‘berperang’ sesama sendiri. lagi pun kesalahan tentang tarian pendet itu dilakukan oleh Discovery Channel kan.. pas ni xnak lah masuk blog ni lagi..wat sume orang marah jek..

    p/s last Quote , petikan dari komen blog Faizal Tehrani

    http://tinyurl.com/faizalTeh

    komen oleh gagal dikesan:

    “Sy pernah mendengar satu cerita lucu dari seorang teman yg berpeluang bercampur gaul dgn warga Indo kelas atasan dan bawahan sewaktu lawatan singkatnya ke sana.

    Sy dimaklumkan oleh teman sy itu yg juga dimaklumkan oleh org dalaman di Jakarta sendiri, bahwa hampir setiap protes atau demonstrasi yg selalu ditonton di kaca TV tu sebenarnya diuruskan oleh beberapa agensi ala syarikat pengurusan acara yg biasanya menguruskan penganjuran konsert kalau di Malaysia.

    Betapa melaratnya kehidupan rakyat Indo di negara mereka shingga ada yg cari makan sebagai demonstrator atau protestor atau perusuh bergaji tak bertauliah.

    Selain gaji, agensi pengurusan rusuhan tersebut akan menyediakan pakaian dan make-up seperti janggut palsu/serban/tasbih, juga props tambahan seperti banner2 dan bendera untuk digunakan sewaktu rusuhan yg dibayar upahnya itu berlangsung.

    Pihak pengurusan rusuhan itu juga bertanggungjawab merakamkan visual sekitar rusuhan dalam bentuk foto atau video sebelum dijual pula kepada agensi berita yg berminat.

    Pihak penaja rusuhan yang mengupah agensi pengurusan rusuhan ini biasanya terdiri drpd yayasan politik atau keagamaan yg sengaja mahu mencetus kekecohan atau meraih perhatian kamera-kamera agensi berita asing.

    P/S: Moral of the kisah, siapakah agaknya penaja untuk protes anti-Malaysia yg kononnya mahu membuluhruncingkan kita tu kali ni ya?”

  26. abgzol said:

    Pergh! Lain betul post Ijad kali ni menyusuk jiwa..terpanah kepada sesiapa yang disasarkan! Kalau DBP jumpa gurindam tu sure akan dimasukkan dalam koleksi buku-buku puisi mereka & Ijad boleh dapat royalti :)

    Sebenarnya aku pon heran dah sampai bakar bendera..orang kita masih angau dengan lagu2 karya mereka..terutamanya rancangan tv pon dilambakkan sinatron & orang kita gak ternganga menontonnya sambil bercucuran air mata..rumah kena pecah masuk pon biasanya siapa yang kedengaran memecahnya???

    ..sesungguhnya aku setuju dengan gurindam ijad tu!!!!! Syabas bro kerana mencetuskan luahan hati tu ;)

    rohaizad Reply:

    Yup, itulah mesej yang hendak di sampaikan dalam gurindam ini. Semoga ada yang akan perasan seperti Bro Zol.

    siti Reply:

    amboi bro ijad cam mdalam jer kata2 mu itu,

  27. Jmay said:

    Hoho…sungguh puitis gurimdam bro nih..rsa sayu plak bca gurindam bro nih..smoga kdua-dua negara mmpu berfikir rasaional~

    rohaizad Reply:

    Mintak-mintak macam tu lah :)

  28. Bila plak nak bukak kelas puisi ni bro? Kawan org pertama berguru ngn awak? Kat UTM leh? Kihkihkhihkhih

    rohaizad Reply:

    Ahahahah… aku bukan tau sangat bergurindam. Gurindam ini tercetus sebab ada “orang tertentu yang kejutkan” aku dari lamunan.

  29. smartzul said:

    Tak semua orang Indonesia macam tu. Mungkin tengok pada kawasan dan juga ‘mazhab’ (kelompok) yang mereka pegangi. Keduanya, lihat siapa leader mereka. Kalau leader mereng, mereka akan turut merenglah. Tapi yang faham Agama biasanya tak ambik port benda-benda macam ni sebab ‘soal bangsa dan adat’ bukan penting sangat dalam Agama. Kita satu Agama. Cukup itu jadi pegangan walaupun kita berbeza bangsa.

    ps. Ijad, Tuan dijemput ke blog smartusaha untuk memberi pendapat terhadap theme terbaru. Jangan kritik sudahlah. :D

    rohaizad Reply:

    Wahhh… dah tukar rupanya.. akan ku panjat diding theme baru itu untuk mengintai dari tirai kamar… :D

  30. [...] bukan mengungkit tapi sekadar MENGINGATKAN. Hakikatnya, masih ramai lagi warga Indonesia kat sini yang bekerja… mencari rezeki dengan [...]